Dokumenter gak sekedar narasi yang di insert gambar

28 09 2007

Sejak pertama kali mengedit film dokumenter, hampir sebagian besar karya yang saya kerjakan berupa dokumenter naratif  (itu istilah teman saya), maksudnya kita buat narasi, lalu syuting mengambil gambar mengikuti narasi yang sudah ada, lalu ada wawancara yang kaku (tokoh duduk manis di kursi, sementara film maker memasang kamera statis) Hmm…kalo dilihat dari sistem kerja, enak banget. Gampang dan cepat. Tradisi inilah yang banyak dianut oleh televisi kita maupun luar negeri seperti Natioal Geographic dan Discovery Channel. Sebagian besar karya dokumenter mereka menggunakan narasi.

Tapi, lama-kelamaan ada kejenuhan dalam diri saya jika menggunakan sistem seperti itu, saya sebagai editor seperti tak punya kebebasan untuk meng-eksplor gambar dan mengobrak-abrik struktur cerita. Seperti bermain puzzle tapi sudah diketahui bentuknya. Kotak masuk ke kotak, elips masuk ke elips, bulat masuk ke bulat,dst. Beda jika saya diberi hanya stock gambar dan treatment dari sang director. Disitulah saya bisa meng-eksplor gambar dan mengobrak-abrik struktur cerita, adu pendapat dengan director. Seolah-olah kita diberi puzzle berantakan tanpa kita tahu gambar ini masuk dimana,hehehe. Rumit memang dan memakan waktu juga memeras otak. Tapi jika sudah menemukan bentuk dan struktur serta dramatugi nya. Hmmm…feels like orgasm.

Jadi, coba deh bikin dokumenter jangan cuma mengandalkan narasi. Memang konsep sebelum syuting perlu, tapi jangan sampe membatasi kebebasan kita untuk meng-eksplor pada saat syuting. Akan sangat menyenangkan and free your mind.





NGEDIT DOKUMENTER, ANTARA PUSING DAN NIKMAT

28 09 2007

Kemaren, gue ngedit dokumenter tentang Aceh untuk yang kesekian kalinya.  Gak tau kenapa, kalo ngedit film soal Aceh pasti butuh tenaga dan fikiran ekstra dibanding ngedit yang laen, mungkin karena keterlibatan emosional thd Aceh (secara gue hampir setahun tinggal disana..fyuuuuh) atau karena lagi overload aja nih otak? Tapi yang pasti gue tetep dapet kenikmatan ngedit saat ngedit dokumenter. Selalu ada ide-ide baru kalo ngedit dokumenter, karena menurut gue dokumenter itu bisa diceritakan dalam berbagai cara. Yang pasti ada ngotot-ngototan adu persepsi sebelum ketemu jalan keluarnya, ada kertas berserakan yang isinya coret-coretan struktur, yang kadang suka dibuang sama OB kalo pagi, ada bete-bete’an,ada acara nunggu mood segala,hahaha…Pokoknya selalu bisa mencoba cara baru (walau orang laen udah pernah pake cara itu,kan gue belum jadinya tetep di itung baru.hehehe). Yang pasti kalo udah dapet struktur cerita dan dramatiknya, hmmm feels like orgasm. Hahaha… Eh, ini pengalaman pribadi yaa, jangan disangkut pautkan dengan ilmu-ilmu dan teori film editing loh. Halaaah!