KENAPA SAYA TAKUT TERBANG?

13 12 2007

s_airplane8.jpg
Pertanyaan ini selalu menghantui saya setiap ada tawaran kerja di tempat lain yang mengharuskan saya menggunakan alat transportasi modern (baca pesawat) ini. padahal beberapa tahun lalu, terbang merupakan hal biasa bagi saya.

Ketika menuju bandara, jantung ini berdegub lebih kencang dari biasanya, saya merasa seperti dibawa ke altar jagal. Bersiap untuk mati, (mungkin terdengar berlebihan, tapi ini kenyataan yang saya hadapi).

Banyak teman yang bilang bahwa persentase kecelakaan pesawat sangat kecil jika dibandingkan dengan keberhasilan take off dan landing yang sempurna. Tapi, ini tak cukup membuat saya berani terbang, hingga saya lebih memilih perjalanan darat Jakarta-Banda Aceh selama 4 hari.

 Life is about choice.





Film dokumenter sebagai alat propaganda

29 09 2007

Saya baca dari blog temen saya tentang film dokumenter yang terjebak menjadi alat propaganda LSM.

Benarkah film dokumenter hanya sebagai alat propaganda saja?

Kembali kepada film itu sebagai media. Apapun medianya (jangan bilang minumnya teh botol. hehehe) baik itu film,media cetak,internet, bahkan SMS sekalipun bisa menjadi sebuah media propaganda. Jika dokumenter dikatakan hanya sebagai alat propaganda saya rasa itu gimana si pembuatnya aja dan tujuan apa yang ingin dicapai, dengan kata lain tergantung niat. Film cerita pun bisa dijadikan media propaganda baik secara terang-terangan maupun gelap-gelapan. (inget G30s/PKI yang tiap tahun kita tonton di TVRI).

Jadi, propaganda terjadi bukan hanya dari kesempatan yang ada, tapi juga dari niat si pembuatnya. Waspadalah…waspadalah. (laah…kok kayak bang napi di RCTI yah? ) tau deh pusing. hehehe





Dokumenter gak sekedar narasi yang di insert gambar

28 09 2007

Sejak pertama kali mengedit film dokumenter, hampir sebagian besar karya yang saya kerjakan berupa dokumenter naratif  (itu istilah teman saya), maksudnya kita buat narasi, lalu syuting mengambil gambar mengikuti narasi yang sudah ada, lalu ada wawancara yang kaku (tokoh duduk manis di kursi, sementara film maker memasang kamera statis) Hmm…kalo dilihat dari sistem kerja, enak banget. Gampang dan cepat. Tradisi inilah yang banyak dianut oleh televisi kita maupun luar negeri seperti Natioal Geographic dan Discovery Channel. Sebagian besar karya dokumenter mereka menggunakan narasi.

Tapi, lama-kelamaan ada kejenuhan dalam diri saya jika menggunakan sistem seperti itu, saya sebagai editor seperti tak punya kebebasan untuk meng-eksplor gambar dan mengobrak-abrik struktur cerita. Seperti bermain puzzle tapi sudah diketahui bentuknya. Kotak masuk ke kotak, elips masuk ke elips, bulat masuk ke bulat,dst. Beda jika saya diberi hanya stock gambar dan treatment dari sang director. Disitulah saya bisa meng-eksplor gambar dan mengobrak-abrik struktur cerita, adu pendapat dengan director. Seolah-olah kita diberi puzzle berantakan tanpa kita tahu gambar ini masuk dimana,hehehe. Rumit memang dan memakan waktu juga memeras otak. Tapi jika sudah menemukan bentuk dan struktur serta dramatugi nya. Hmmm…feels like orgasm.

Jadi, coba deh bikin dokumenter jangan cuma mengandalkan narasi. Memang konsep sebelum syuting perlu, tapi jangan sampe membatasi kebebasan kita untuk meng-eksplor pada saat syuting. Akan sangat menyenangkan and free your mind.





NGEDIT DOKUMENTER, ANTARA PUSING DAN NIKMAT

28 09 2007

Kemaren, gue ngedit dokumenter tentang Aceh untuk yang kesekian kalinya.  Gak tau kenapa, kalo ngedit film soal Aceh pasti butuh tenaga dan fikiran ekstra dibanding ngedit yang laen, mungkin karena keterlibatan emosional thd Aceh (secara gue hampir setahun tinggal disana..fyuuuuh) atau karena lagi overload aja nih otak? Tapi yang pasti gue tetep dapet kenikmatan ngedit saat ngedit dokumenter. Selalu ada ide-ide baru kalo ngedit dokumenter, karena menurut gue dokumenter itu bisa diceritakan dalam berbagai cara. Yang pasti ada ngotot-ngototan adu persepsi sebelum ketemu jalan keluarnya, ada kertas berserakan yang isinya coret-coretan struktur, yang kadang suka dibuang sama OB kalo pagi, ada bete-bete’an,ada acara nunggu mood segala,hahaha…Pokoknya selalu bisa mencoba cara baru (walau orang laen udah pernah pake cara itu,kan gue belum jadinya tetep di itung baru.hehehe). Yang pasti kalo udah dapet struktur cerita dan dramatiknya, hmmm feels like orgasm. Hahaha… Eh, ini pengalaman pribadi yaa, jangan disangkut pautkan dengan ilmu-ilmu dan teori film editing loh. Halaaah!